Kamis, 19 Juni 2014

Kisah Gadis Muslimah London, Selamat dari Pembunuhan Berkat Al Qur’an

Lagi-lagi pagi ini dapat kiriman kisah yang menggetarkan hati, langsung saja mari kita simak kisah nyata berikut ini :

Kisah Gadis Muslimah London, Selamat dari Pembunuhan Berkat Al Qur’an

Kisah nyata ini dialami oleh seorang gadis Muslimah asal Arab yang tinggal di London. Suatu hari ia memenuhi undangan temannya hingga tengah malam. Meski rumahnya jauh, ia harus pulang malam itu juga.

“Naik bus saja ya. Meski agak lama tapi relatif lebih aman daripada kereta (subway). Di sini sering terjadi tindak kejahata dan pembunuhan di malam hari, apalagi di stasiun bawah tanah yang biasanya sepi,” temannya menasehati ketika ia berpamitan pulang.

Gadis muslimah ini hanya berpikir bagaimana caranya agar ia cepat sampai di rumah. Karenanya ia memutuskan naik kereta api. Dan ternyata benar. Stasiun sepi. Di ruang tunggu, ia melihat seorang laki-laki yang mencurigakan. Hanya mereka berdua yang ada di sana. Sempat takut, tapi ia kemudian cepat menenangkan diri. Ia berlindung kepada Allah dan membaca surat-surat Al Qur’an yang dihafalnya. Ia pun berhasil melewati laki-laki tersebut dengan aman, lalu naik kereta dan tibalah ia di rumahnya.

Keesokan harinya, gadis Muslimah ini dikejutkan dengan berita pembunuhan yang ia baca di surat kabar. Pembunuhan itu terjadi di stasiun yang sama, persis lima menit setelah kepergiannya meninggalkan stasiun itu. Di berita itu juga disebutkan, polisi berhasil menangkap pembunuhnya.

Penasaran dengan peristiwa itu, ia datang ke kantor polisi untuk melihat siapa pembunuhnya. Ternyata pelaku adalah laki-laki yang telah dilihatnya semalam. Setelah meyakinkan polisi, ia diberikan kesempatan bertanya kepada laki-laki tersebut.

“Apakah engkau mengingatku?” tanya gadis Muslimah itu.
“Apakah aku mengenalmu?” jawab laki-laki itu sambil berusaha mengingat gadis di depannya.
“Aku bertemu denganmu di stasiun sebelum kejadian tersebut”
“Ya, aku ingat sekarang”
“Mengapa engkau membiarkan aku, tidak membunuhku saat itu?”
“Jangan bercanda. Bagaimana aku akan membunuhmu sementara ada dua pengawal berbadan besar yang mengikutimu?”

Allahu akbar! Rupanya Allah menyelamatkan gadis muslimah itu dengan mengirimkan dua penjaga untuknya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi semalam.

Saudariku sahabat webmuslimah, kapan pun engkau merasa terancam bahaya, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pelindung dan tidak ada pelindung kecuali Dia. Kapan pun engkau merasa takut, bergantunglah hanya kepadaNya. Ingatlah Dia, niscaya Dia mengingatmu. Berdoalah kepadaNya dengan doa yang sungguh-sungguh, niscaya Dia mengabulkan doamu.

Seperti kisah nyata yang ditulis Syaikh Ahmad Abduh Iwadh dalam buku La Tai’asu min Ruuhillah (Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah) di atas. Ketika seorang hamba benar-benar berdoa, berlindung dan bergantung kepadaNya, maka Dia akan melindunginya dengan berbagai cara yang kadang-kadang hambaNya sendiri tidak tahu bahwa Allah melindunginya dengan caraNya.

Dan janganlah kosongkan dirimu dari Al Qur’an. Hafalkanlah firman-firmanNya, sesuai kemampuan dan kesanggupanmu. Sesungguhnya dengan menghafal Al Qur’an, engkau bisa membacanya kapan pun. Dan dengan membacanya, engkau mengingatNya. Ketika engkau menghayati maknanya, sesungguhnya engkau berusaha lebih dekat denganNya. Dan Dialah yang menjagamu dan menjaga seluruh penghafal Qur’an.

[Sumber: Webmuslimah.com]

Jumat, 30 Mei 2014

Untuk Aku Pulang

Kadang..
Kita harus jatuh dulu, baru bisa kembali..
Kadang..
Kita harus tahu rasa pedih dan perih itu,
Baru bisa memaknai..

Aku tertatih, mencari jalan untuk pulang..
Aku mohon hapus lah aku dari ratapan kehampaan..
Aku merintih, mencari kepingan harapan..

Yaa Rabb..
Jangan Kau matikan aku dalam kesesatan..
Yaa Rabb..
Jangan Kau biarkan aku dalam kesendirian..

Perlahan, aku mulai menata hati..
Resah mulai mendekati tepi..
Cahaya mulai menerangi hati..
Dan hampa, pergi jangan pernah kembali lagi..

Tangis ini.. air mata ini.. adalah perhiasan dalam hidup ku, dimana aku, mendapatkan kembali cahaya-Mu, untuk aku pulang..

Puisi karya puyuratee, untuk aku pulang.

Sabtu, 10 Mei 2014

"Cuman Segitu Doang"

Buat yg lagi ngerasa capek.. lelah.. letih.. lesu.. galau.. dkk 

Berhentilah Mengeluh dan Meratapi Kehidupanmu

Ada yang pernah nyicipin ditelan ikan paus?

Ada yang pernah ngerasain dibakar hidup-hidup?

Ada yang pernah ngalamin diusir dari surga?

Ada yang pernah disuruh disembelih buat jadi qurban?

Ada yang pernah dibuang ke sumur waktu masih kecil sama abang sendiri dan dipenjara gara2 difitnah menodai ibu asuh oleh bapak asuhnya?

Ada yang pernah ngalami kebuntuan dakwah 950 tahun?

Ada yang pernah dikejar-kejar buat dibunuh sama orang sekampung, termasuk sama om sendiri? Dan di kesempatan lain dilemparin batu sama orang satu desa rame-rame?

Rabu, 07 Mei 2014

Hijrah untuk Mencintai-Mu

Aku telah mengenal-Mu sesaat setelah hembusan nafas pertama ku dalam jeritan tangis di bibir kecil ku, bersamaan dengan dentuman lantunan adzan berkumandang pada telinga ku, di tengah riyuh tangis haru kebahagiaan kedua ayah dan ibuku. Sungguh nikmat pertama untuk ku dalam hiruk pikuk kepalsuan dunia fatamorgana.

Aku hanyut dalam kebisuanku, terhenyak dengan sesak di dada yang ku rasa, sungguh sedikitpun tak dapat ku percaya selama itukah waktu yang tersia-siakan, dan selama inikah dua-puluh-empat tahun usia ku yang telah terbuang percuma, tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa ku mendekatkan hati ku sepenuhnya mencintai-Mu, seutuhnya hanya mencintai-Mu!!

Bersabar menanti keindahan yang akan Allah tetapkan untukku ❤


Masya Allah, kali ini mau share kisah yang menyentuh hati, semakin sabar dalam menanti ketetapan Allah dalam segala hal, karna sabar dan ikhlas itu indah... ❤



Allah Maha Besar.. Allah Maha Besar..!!



Bismillah, kisah dari kejadian nyata.



Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik. Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun. Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.



Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya. Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.


Selasa, 06 Mei 2014

Dekat dengan Al-Qur'an Membuat Tutur Kata Terucap Indah

Alhamdulillah wa syukurilah atas segala nikmat dan karunia dari-Nya, beberapa hari yang lalu di perkenalkan dengan suatu komunitas yang sangat luar biasa, terasa semakin dekat dalam menggapai keredhoan-Nya, tiada hari tanpa bibir ini basah oleh ayat-ayat suci Al Qur'an. Semakin tenteram dalam menjalani segala yang telah digariskan-Nya.

Ini yang in shaa Allah akan selalu kami rasakan :

Dekat dengan Al Qur'an membuat setiap tutur kata terucap indah. Tak ada sumpah serapah. Tak ada ghibah, fitnah apalagi namimah.

Dekat dengan Al Qur'an membuat setiap jengkal langkah terjaga dari bias palsu fatamorgana, licinnya teras dunia, hingga dalamnya jurang kesesatan. Mu'ayasyah ma'al qur'an, berinteraksi dengan Al Qur'an membuat hidup menemukan kehidupannya, usaha menemukan kesuksesannya, perjuangan menemukan kemenangannya.

Dekat dengan Al Qur'an, membuat diri ini lebih banyak menilai diri sendiri ketimbang orang lain. Mereka yang suka korek mengorek tak sadar dengan aibnya sendiri.

Rabu, 30 April 2014

Katakan : "Saya Ikhlas..."

Dari luasnya definisi ikhlas memiliki maksud yang sama dimana ikhlas adalah bagaimana kita melakukan penyerahan diri secara totalitas kepada Allah SWT, atas segala kehendak yang telah digariskan-Nya. Namun untuk menjabarkannya, ilmu saya masih sangat-sangat belum memadai. Lalu bagaimana bila dalam hidup kita ditempatkan dalam posisi tidak dapat memiliki pilihan selain menerima. Setiap manusia pasti melalui fase pendewasaan diri, lalu bagaimana bila ilmu kita belum cukup mampu untuk melalui masa-masa itu. Dan mengapa diatas saya memutuskan untuk menuliskan judul demikian, padahal kita sama-sama tahu, untuk ikhlas semua tidak semudah kata-kata ataupun ucapan. 


Empat bulan terakhir fikiran dan bathin saya di 'gembleng' untuk mencari makna dari sebuah keikhlasan. Lalu apakah sekarang saya sudah berhasil melewatinya, dengan cepat saya menjawab saya belum berhasil melewatinya. Saya mulai sering melakukan pembicaraan dengan diri saya sendiri, bukankah saya sudah melepaskan semuanya, bukankah saya sudah memilih untuk tidak membenci siapapun, dan bukannya saya sudah mampu bangkit dan tersenyum. Ternyata semua itu tidak memuaskan keinginan saya untuk terus mencari kedamaian dalam diri saya sendiri agar lebih mudah memahami dan menjalani segala yang telah Allah tuliskan.

Rabu, 16 April 2014

Puisi-puisi Sufi Rabi’ah al-Adawiyah

I
Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apapun terjadi
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula
Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah dan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan yang tiada berpantai
II
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mu pujian untuk semua itu

Jumat, 07 Maret 2014

Kau ini bagaimana, atau aku harus bagaimana?


Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir
Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain